Prinsip-prinsip Dasar Dalam Asuransi Syariah

Adanya bisnis asuransi digeluti ialah melihat adanya peluang kekuatiran masyarakat akan adanya kesialan atau musibah di hari yang akan datang. Hal ini mungkin benar dalam pemikiran masyarakat yang beranggapan bahwa suatu saat nanti ada musibah yang diperolehnya. Namun, jika dilihat dari segi agama islam, hal ini sama sekali tidak dianjurkan.

Agama islam mengajarkan supaya selalu berbaik sangka terhadap apapun, termasuk terhadap masa depan yang akan kita lalui nanti.oleh karenanya beberapa ulama menyebutkan bahwa asuransi adalah haram hukumnya. Dengan mengikuti atau membeli sebuah produk asuransi, berarti orang tersebut mendaftarkan dirinya untuk celaka. Padahal belu tentu orang tersebut celaka nantinya. Di samping itu, ada beberapa sumber mengatakan bahwa asuransi itu boleh dilakukan asalkan memakai prinsip-prinsip dasar dari asuransi syariah.

Prinsip-prinsip dasar asuransi syariah bermuara pada ketentuan yang tertulis dalam kitab suci umat islam, Al qur’an dan petunjuk Nabi Mohammad SAW, Al Hadits.

Berikut ini beberapa prinsip-prinsip dasar dalam melakukan muammalah syariah:

  1. Asuransi syariah dibangun harus didasari dengan asas tolong menolong, kerja sama, saling menjamin dan tidak berorientasi dengan keuntungan semata. Hal ini merujuk pada sebuah ayat Al quran yang menyebutkan bahwatolong menolonglah dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam urusan dosa dan permusuhan.
  2. Asuransi syariat mempunyai sistem mudharrabah atau tabarru’. Tidak menggunakan sistem mu’awwadhah.
  3. Semua anggota yang tergabung dalam asuransi syariah harus menyetor uang sesuai dengan perjanjian awal dan diniati untuk menegakkan syariat islam. Uang yang dikumpulkan dari beberapa anggota tersebut bisa dimanfaatkan apabila ada yang membutuhkannya nanti.
  4. Tidak diperbolehkan apabila ada salah satu anggota dalam asuransi syariah yang memang berniat menyetor uang dalam jumlah yang sedikit. Dia berharap untuk mendapatkan bagian yang lebih banyak apabila dia akan terkena musibah. Uang yang diberikan kepada para anggota yang terkena musibah tetap menggunakan kesepakatan bersama.
  5. Apabila uang yang sudah terkumpul tersebut ingin dikelola dan dikembangkan, maka harus dikelola dan dikembangkan dengan cara yang benar yakni sesuai dengan syariat islam.

Prinsip-prinsip dasar asuransi syariat diterapkan agar tidak terkena dosa

Prinsip-prinsip asuransi syariat tersebut harus benar-benar bisa diterapkan agar para anggota yang ikut tergabung dalam asuransi tersebut tidak terkena dosa karena penyimpangan pengelolaan. Untuk lebih waspadanya, anda harus mengenali beberapa ciri. Beberapa ciri tersebut ialah akad asuransi yang digunakan ialah akad asuransi syariah yakni tabarru’. Yang dimaksud dengan tabarru’ yaitu sumbangan yang telah disetorkan tidak boleh diminta kembali. Jika tidak melalui tabarru’, maka menggunakan sistem tabungan.

Tabungan tersebut akan diberikan ketika ada musibah yang menimpanya. Ciri-ciri selanjutnya ialah di dalam asuransi syariah tidak terdapat pihak yang mempunyai kedudukan lebih kuat dibanding dengan yang lain. Aturan-aturan yang dipakai sesuai dengan syariat dan kesepakatan para jamaah. Dalam asuransi syariah tidak terkandung riba dan gharar. Namun bernuansa kekeluargaan dan saling menguntungkan.

Dengan asuransi syariah, ikatan persaudaraan akan menjadi lebih kental. Selain itu, dengan adanya asuransi syariah, seseorang akan terlepas dari bahaya dan dosa riba. Prinsip yang ditegakkan oleh nabi Mohammad SAW akan adanya saling menolong sesama orang islam masih terlaksana dengan baik. Oleh karenanya, anda harus benar-benar selektif dalam memilih asuransi untuk keberkahan dalam kehidupan hidup di dunia dan di akhirat. Semoga tulisan ini bermanfaat dan kita semua tetap dalam lindungan Alloh SWT.

Prinsip-prinsip Dasar Dalam Asuransi Syariah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *